Senin, 26 Maret 2012

UPAYA MENGENTASKAN KEMISKINAN


Ada dua faktor utama mengapa orang menjadi miskin, yakni sebab kultural dan sebab struktural. Secara kultural, kemiskinan dipicu oleh lemahnya etos kerja, sikap hidup yang fatalis dan salah dalam memahami makna rizki, malas berusaha termasuk malas mengembangkan kemampuan diri serta terperangkap pada budaya miskin itu sendiri. Dengan demikian program apapun yang diberikan untuk memperbaiki konisi ekonominya jika factor utama tersebut sudah mendarah daging maka akan sangat sulit bagi mereka untuk keluar dari yang namanya kemiskinan.

Secara struktural, kemiskinan dipicu oleh setting sosial yang individualistik. Yakni ketika orang yang mampu (kaya) dengan egonya merasa acuh dengan kehidupan kemiskinan yang ada di sekitarnya, termasuk tidak adannya kesadaran bahwa banyaknya orang yang ada di sekitarnya yang membutuhkan uluran tanganya. Ia sibuk dengan dirinya sendiri, berlomba-lomba memenuhi semua keinginanya (bukan kebutuhan) yang tidak terbatas, sedangkan orang yang ada disekitarnya sedang kesulitan mencari makan.Tetapi yang paling utama, kemiskinan adalah produk dari sitem ekonomi kapitalistik yang melahirkan pola distibusi kekayaan yang tidak adil
Mengapa distribusi sangat buruk? karena sistem dan kebijakan pengambil keputusanlah yang membuat itu semua. Sementara itu, kaum kaya dengan sejumlah modal yang dimilikinya mampu menambah kekayaannya dengan seenaknya, dan yang lebih parah lagi mereka mampu masuk kedalam jantung dan darah para pengambil kebijakan. Sehingga sebagian besar produk kebijakan yang diambil adalah pesanan dari mereka kaum kaya agar dapat memenuhi kebutuhan usahanya untuk menumpuk kekayaan yang dimilikinya. Ditambah lagi dengan miskinnya solidaritas dan budaya miskin diatas maka lengkaplah penyebab kemiskinan.

Pengentasan Kemiskinan
Masalah kemiskinan di Indonesia merupakan masalah yang menyesakkan dada bangsa ini, mengingat jumlah orang miskin di Indonesia semakin tahun semakin bertambah. Apabila dilihat dari penyebarannya, bahwa penduduk miskin di Indonesia lebih banyak dialami oleh orang-orang yang tinggal di pedesaan, wilayah kumuh perkotaan dan pesisir pantai, yang notabennya tingkat pendidikanya rendah dan memiliki produktifitas yang rendah, sehingga tidak mampu untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya yang layak. Pengalaman multi krisis yang dialami bangsa ini memberikan dampak yang memperihatinkan, seperti daya beli masyarakat yang rendah terhadap suatu barang, karena adanya inflasi bahan-bahan pokok, sedangkan masyarakat tidak memiliki sumber penghasilan yang memadai untuk membeli suatu barang.

Dampak krisis ekonomi yang kita hadapi sejak dekade 1997, telah menimbulkan tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan terhadap masyarakat baik di wilayah perkotaan maupun di pedesaan. Dengan kata lain, bahwa multi krisis sebagai penyebab kemiskinan, sehingga negara mengalami kemunduran. Pengentasan kemiskinan masyarakat merupakan inti dari pemberdayaan masyarakat melalui perubahan sosial untuk mencapai kesejahteraan masyarakat yang di inginkan dengan bersandarkan pada norma dan etika yang berlaku, serta menjunjung tinggi kesejahteraan bersama sebagai warga negara.

Pengentasan kemiskinan secara keseluruhan sebetulnya inherent dengan perubahan sosial yang berlaku dalam masyarakat kita, dan setiap kali kita melakukan perubahan maka setiap kali itu kita akan menemukan fenomena yang baru, dimana adanya situasi dan kondisi baru yang harus dihadapi oleh bangsa ini. Dengan kata lain pilihan perubahan yang di kehendaki oleh bangsa kita saat ini dituntut untuk memberikan perubahan yang mendasar sehingga memberikan kesejahteraan bagi masyarakat bukan memberikan kemiskinan. Birokrasi merupakan institusi yang mendukung terjadinya perubahan untuk mengatasi kemiskinan, tetepi di Indonesia dan di negara-negara dunia berkembang birokrasi merupakan sebagai sumber dan menjamurnya kemiskinan dan penindasan rakyatnya.

Program penangulangan kemiskinan bukan hanya pada tingkat perencanaan, tetepi harus adanya sasaran yang akan dicapai oleh pemerintah, baik di wilayah pedesaan maupun didaerah perkotaan dengan menyesuaikan karakteristik dari wilayah masing masing. Dalam rangka pembangunan masyarakat yang maju, mandiri, sejahtera dan berkeadilan harus diupayakan oleh setiap komponen dengan beroreantasi kepada kepentingan masyarakat secara keseluruhan sehingga pemerintah dapat berperan sebagai fasilitator untuk pengentasan kemiskinan masyarakat, dan masyarakat baik di pedesaan maupun di perkotaan mempunyai produktifitas yang tinggi dalam pengolahan sumber daya yang dimiliki sesuai dengan prinsip sustinable devlopment.

Harus kita akui, bahwa perubahan paradigma serta peranan pemerintah dalam proses pengentasan kemiskinan masih jauh dari harapan. Namun dengan komitmen untuk meningkatkan dan mewujudkan masyarakat yang berdaya saing dalam pelaksanaan pembangunan, maka diperlukan langkah-langkan konkrit oleh pemerintah baik di tingkat pusat maupun di daerah. Selain itu prinsip ekonomi kerakyatan merupak salah satu solusi yang tepat bagi pengentasan kemiskinan, karena dengan ekonomi kerakyatan maka pemerintah akan mengurangi jumlah masyarakat miskin di Indonesia, karena ekonomi kerakyatan lebih mengarah kepada peningkatan produktifitas masyakat secara keseluruhan. Ini berarti sektor usaha kecil menengah lebih diandalkan dengan beroreantasi pengembangan mikro ekonomi.

Disisi lain hal yang tidak kalah pentingya adalah merubah menatal dan pola fikir masyarakat miskin itu sendiri. Sikap malas berusaha, menyerah kepada nasib dan selalu mengharapan belas kasih dari orang lain adalah mental dan pola fikir yang sudah mendarah daging dikalangan masyarakat miskin. Alangkah sangatnya prihatinnya kita ketika menyaksikan ribuan warga masyarakat mengantri berdesak-desakan untuk mendapatkan sedekah dari orang yang dermawan, bahkan hingga menimbulkan korban jiwa karena jatuh dan terinjak-injak temannya saat berdesak-desakan untuk berebut sedekah. Sikap mental yang seperti inilah yang harus segera dirubah dengan selalu memberikan motifasi dan pendampingan psikologi. Untuk kemudian menumbuhkan kepribadian yang punya harga diri, optimis terhadap masa depan, pantang menyerah, giat berusaha dan mandiri.

Usaha Kecil Menengah
            Usaha Kecil Menengah merupakan salah satu pemecahan bagi pemerintah untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Ada sekitar 48 juta UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) yang sedang beroperasi dan bias menghidupi keluarganya. Bahkan, Negara majupun memulai usaha dengan UMKM. UMKM sendiri didirikan dan dijalankan oleh orang-orang yang memiliki jiwa kewirausahaan atau dikenal sebagai wirausahawan. Wirausahawan adalah seseorang yang menemukan gagasan baru dan selalu berusaha menggunakan sumber daya yang dimiiki secara optimal untuk mencapai tingkat keuntungan tertinggi, serta memiliki seni dan keterampilan tertentu dalan menciptakan usaha baru.

Hasil survey Litbang Media Group, yang ditulis dalam editorial Media Indonesia yang berjudul “Minimnya Minat menjadi Pengusaha”, menunjukkan bahwa motivasi masyarakat Indonesia untuk menjadi pengusaha ternyata amat sangat rendah. Mayoritas responden menjawab lebih suka menjadi orang upahan alias pekerja daripada membuka usaha sendiri. Ini adalah bukti sikap mental dan pola fikir masyarakat kita yang harus di ubah, sebab kalau tidak maka akan selamanya rakyat Indonesia akan menjadi pekerja bagi investor asing dinegaranya sendiri, dan itu artinya kemiskinan akan terus mejamur di Neara tercinta ini.

Disamping rendahnya motivasi menjadi wirausahawan, salah satu factor yang mempersulit tumbuhnya keirausahaan di Indonesia adalah masalah birokrasi pemerintahan. Masalah birokrasi dimulai dari perizinan sampai kebijakan dunia perbankan, yang sampai saat ini masih menjadi perbincangan yang tak ada ujung pangkalnya. Sehingga kita harus membangun semangat diri yang kuat bahwa baik buruknya kondisi hidup seseorang bergantung pada diri kita sendiri tanpa menggantungkan diri pada orang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar